Categories: DaerahRagam

Diam di Atas Laut Halmahera, Kita Belajar Sejarah Sambil Menjaga Alam

Baringkan kepala diatas kasur empuk, menatap atap rotan yang sejuk, Meti Cottage hadirkan suasana asri nan nyaman, wisata lokal yang juga mengedukasi pentingnya menjaga alam

Pemandangan laut yang biru memanjakan mata sepanjang perjalanan, air laut yang sangat jernih memantulkan warna hijau toska dibawah langit Halmahera Utara. Angin laut berbisik pelan, mengajak telinga mencerna suara alam.

Halmahera Utara, begitulah nama itu sering disebut dalam sejarah sebuah pulau yang memiliki hamparan pohon kelapa dihampir sepanjang perjalanan menuju ibukotanya, Tobelo.

Hibualamo, julukan dalam sejarah tentang Halmahera Utara. Rumah Besar dimana semua suku ditempat ini menyatu dan berbaur, itulah filosofinya.

Meti Cottage di Halmahera Utara

Di ujung Halmahera Utara, tersimpan surga kecil yang membuat mata sekejap takjub. Hamparan warna biru toska permukaan laut yang memanjakan mata kita dari sudut timur kota Tobelo.

Untuk bisa menikmati keindahan surga kecil itu, kita harus menempuh perjalanan laut +/- 20 menit dari kota dengan perahu berbagan kayu, warga setempat menyebutnya Katinting atau Longboat. Perjalanan singkat yang sederhana namun menarik.

Sepanjang mata memandang kita akan temui pesona surga kecil yang terdiam, penuh sejuta cerita diantara himpitan pulau kecil lainnya. Itulah Pulau Meti.

Dari kejauhan, kita mulai bergeser perlahan mendekati Pulau Meti. Sambutan suara riukkan ombak kecil, desiran angin sepoi-sepoi dan air laut yang jernih menambah rasa penasaran seperti apa Pulau Meti yang tersembunyi namun penuh makna.


Kaki kaki kecil mulai menelusuri setapak memasuki pekarangan pulau yang berdiri bangunan sederhana beratapkan daun Rumbia dan Rotan. Ternyata, pulau kecil ini menyajikan vila vila kecil nan sejuk berlatar belakang alam sebagai tempat bermalam, ini dinamai Meti Cottage, berada di Kecamatan Tobelo Timur, Kabupaten Halmahera Utara.

Berdiri sejak 2017 lalu, Meti Cottage menawarkan pengalaman menginap yang ramah, aman dan menu khas yang bisa dinikmati visitor baik lokal maupun manca negara.

Dari kursi rotan Meti Cottage, waktu terasa melambat. Tidak ada gedung tinggi, suara bising ibukota dan konflik batin. Hanya ada ombak, suara angin, langit yang luas dan bentangan pulau pulau kecil disekitarnya.

Adi, seorang pemuda asal Yogyakarta yang lahir dan besar di Aceh memantaskan dirinya memilih Pulau Meti sebagai investasi masa depannya.

Tempat ini bukan hanya sebatas inap semata, Adi mengatakan Meti Cottage sebagai bentuk pulang kampung dan cara menghidupkan kampung.

“Kami menyebut spot community, katanya saat ditemui. Tujuannya bukan membangun resort besar, tapi membuat sesuatu yang berdampak positif bagi masyarakat. Nelayan bisa jadi pemandu, dan anak muda bisa ikut jaga pantai”, ujarnya pada Media ini, Kamis (30/7).

Bermula dari perjalanan pendidikannya di Jerman, Adi menempuh kuliah Doktornya di negeri Eropa. Inspirasi mengantar Adi terbang ke Indonesia Timur, tepatnya di Halmahera Utara, langkah berani yang dia tempuh dalam kondisi masih kuliah.

Meti menjadi objek utama bagi seorang Adi yang memiliki pengalaman kerja di Perhotelan. Ia mulai merintis bisnis travel hingga ke titik dimana ia menemukan konsep nature dalam bisnis Akomodasi Pariwisata dan Resort Ekowisata (Ecotourism) yang berbasis kelautan di pulau ini.

Luas pulaunya tidak seberapa, namun ekosistem disini terjaga. Meti Cottage bukan tempat mewah, listrik terbatas, sinyal naik turun bahkan fasilitas kota tidak kita temui disini, yang butuh ketenangan Meti menjadi pilihan tepat untuk bermalam.

Disini kita bisa meluangkan waktu untuk menikmati pesona wisata bahari, sunset yang memukau dan ketenangan yang tak bisa dibeli.

Konsep Nature, Tenaga Lokal

Konsep bangunan bernuansa alami, lokal menjadi sangat kental dengan ornamen rotan dan daun sebagai atap atap tempat kita memejamkan mata saat rasa kantuk memanggil.

Simple tapi menarik, membawa kita bernostalgia dengan masa kecil. Tidak ada kemewahan, karena fasilitas sederhana justeru diminati wisatawan eropa yang ingin menyatu dengan alam.

Meti Cottage punya kuliner lokal. Pekerja kurang lebih 13 orang, hampir 80 persen warga Meti. Menurut Adi, memberdayakan masyarakat sekitar adalah tujuan dari adanya cottage ini. Kita bisa interaksi dengan mereka kapan saja, keramahan dan senyuman manis menghiasi wajah mereka dalam melayani.

Untuk aktifitas, Meti Cottage punya spot diving dengan terumbu karang yang masih hidup. Beberapa sudut terbaik untuk berfoto, terutama saat senja. Biru laut, orange langit dan garis pantai Pulau Meti jadi latar yang tak perlu filter.

Menyimpan Jejak Sejarah

Yang membuat Meti berbeda bukan hanya lautnya, melainkan tersimpan catatan sejarah masa Perang Dunia ke II yang terletak disisi Selatan Pulau. Bekas peninggalan yang tersisa masih terlihat mata.

Sebagian telah terbenam dalam tanah, tapi kita masih bisa melihat satu buah Meriam Artileri berdiameter 35 sentimeter dengan panjang hulu sekitar 5 meter menghadap laut kearah Timur. Ada juga cerita bangkai pesawat tentara jepang. Perang Dunia II terjadi di tahun 1942_1945.

Selain artefak peninggalan Jepang, kita juga bertemu dengan petani kelapa. Cerita singkatnya, komoditi kelapa menjadi unggul dengan olahan kopra yang menghasilkan daging kelapa keri g sebagai bahan baku utama minyak kelapa.

Wisata untuk Menjaga

Dibalik tenangnya Meti Cottage, terselip pesan edukasi yang tersampaikan secara natural bagi visitor. Hal inu mengalir sempurna di masing masing mata yang melihat panorama sekitar.

Apa itu pesannya? kami ingatkan kalian, jangan buang sampah dilaut, jangan injak.karang, jangan beri makan ikan, jika snorkling pakai sun screen yang ramah lingkungan, kata pengelola Cottage.

Bagi pengelola, menjaga laut berarti menjaga masa depan, bukan sekadar menikmati tapi juga peka dengan lingkungan. Namanya juga wisata bahari ya, teman teman liburan sambil edukasi tentang pentingnya mencintai alam.

Jika sampah menumpuk, karang laut rusak, biota laut akan ikut mati. Alam adalah sahabat manusia, kita cinta berarti kita.mencintai diri sendiri. Kalimat ini menarik untuk disampaikan kesemua pengunjung.

Makanya, pemilik menganggap setiap orang yang datang adalah tamu, bertamu ke rumah warga, bertamu ke rumah ikan dan bertamu kw sejarah.

Jelang sore hari dipantai Meti, kita menyaksikan langit orange pantulan sunset. Dari dek Cottage, kita belajar satu hal, cara terbaik menjaga alam adalah dengan duduk diam, lalu dengarkan suara alam.

Dari Meti, kita semua sadar bahwa diam tidak pernah sepi.

Meti Cottage, Tobelo, Kamis (30/7/26)
By. Yunda

Redaksi

Recent Posts

Mengasah Karya Jurnalistik Dengan AI, BI Gandeng Media Gelar Capacity Building Di Pulau Meti

HALUT, JN - Tugas jurnalistik di era modern serba digital saat ini menjadi satu tantangan…

2 hari ago

Borong Dua Gol, Arwin Ardiansyah Bawa KJH FC Lolos 16 Besar PWI CUP Halsel

HALSEL, JN - KJH Fc berhasil meraih kemenangan penting usai menundukkan PCI dengan skor 2-1…

2 bulan ago

Reaksi dan Pro Kontra Pengalihan Lapak Buah kedalam Terminal Gamalama Ternate

TERNATE, JN - Pemerintah Daerah Kota Ternate berencana menata kembali pedagang buah yang ada di…

2 bulan ago

Diduga Penyalahgunaan Wewenang, Kades Terpilih Desa Ini Diadukan DPD LPP Tipikor

HALTENG, JN - Keterlibatan Calon Kepala Desa (Cakades) dalam pencairan Alokasi Dana Desa (ADD) di…

2 bulan ago

Gubernur Sherly Tunjuk Mantan Pejabat Di Halsel Jadi Plt Kadis DKP, Termasuk Plt Di Dinas Pertanian

SOFIFI, JN - Tak butuh waktu lama, Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos tunjuk Kadri La…

2 bulan ago

Data Tak Valid, DPRD Halteng Desak Pemda Cabut Izin Operasional SPBU Ini.

HALTENG, JN - Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Halmahera Tengah digelar diruang sidang paripurna…

2 bulan ago