Aktivitas Korban Banjir Ditenda Pengungsian
HALSEL, JN – Ona Daud (48), tak tahan menahan air matanya tatkala bercerita soal peristiwa pahit yang menimpa dirinya bersama Keluarga yang kini tinggal di tenda pengungsian.
Saat berbincang dengan media ini terlihat sorotan mata wanita yang tinggal di RT 01 Desa Labuha, Bacan itu menujukkan kesedihan yang mendalam.
Disamping mengingat rumah yang puluhan tahun dihuninya hancur akibat ambruk tersapu banjir pada tanggal 22 Juni 2025 lalu.
Dirinya juga menyampaikan kondisi terkini bersama keluargannya berjumlah 10 orang yang masih tinggal di tenda pengungsian dalam keadaan memprihatinkan.
“Momen ini merupakan titik terendah dalam hidup kami, dimana saya dan keluarga benar tidak punya apa – apa,”ungkap Ona Daud warga korban banjir asal Desa Labuha dengan mata berkaca – kaca kepada wartawan Kamis (03/07/2025).
Dia menuturkan, setelah rumah mereka ambruk disapu banjir, dirinya bersama keluarga yang berjumlah 10 orang tidak bisa lagi tinggal di rumah.
Begitu juga dengan pakaian dan barang lainnya sebagian besar tidak bisa diselamatkan karena terbawa banjir.
Untuk menyambung hidup dia bersama keluarga terpaksa tinggal di tenda pengungsian yang dibuat pihak BPBD yang beralaskan lantai berbagan tripleks dan dibalut terpal ini didirikan dilahan milik orang sejak tanggal 29 Juni lalu.
Anehnya, meski sudah 6 hari berada di tenda pengungsian, sebagian dari mereka terpaksa tidur beralaskan terpal, karena hanya mendapat 4 buah tikar dan 2 buah kasur berukuran satu badan. Sedangkan selimut tidak ada sama sekali.
“Torang ada 10 orang, hanya dikasih tikar 4 buah dan kasur ukuran satu badan dua buah tanpa selimut,”beber Ona dengan nada heran.
Parahnya lagi kondisi tenda bantuan Kemensos itu jika hujan turun airnya masuk kedalam tenda melalui jendela, menyebabkan mereka tidak bisa tidur karena basah.
Disamping itu fasilitas air bersih dan MCK berupa kamar madi serta WC juga tidak ada sehingga jika mau buang air kecil atau besar terpaksa numpang di rumah warga atau ke pantai.
“Untuk minum, masak dan nyuci piring kita tiap hari beli air gelon menggunakan uang pribadi, sedangkan untuk cuci pakaian terpaksa numpang di rumah warga,”tandasnya.
Padahal ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan utama yang sangat dibutuhkan bagi warga terdampak bencana banjir di lokasi pengungsian.
Dia juga bilang bahwa semenjak bencana banjir terjadi tanggal 22 Juni lalu sampai saat ini mereka sama sekali belum mendapatkan obat maupun pelayanan kesehatan dari tim medis atau Puskesmas.
“Untuk ketersediaan logistik makanan juga sudah mulai menipis,”tambahnya.
Olehnya itu dia berharap kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, dalam hal ini Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba dan Wakil Bupati Helmi Umar Muchsin, agar dapat memperhatikan kebutuhan mereka selama berada di tenda pengungsian. (*)
Editor : Rismqn Lamitira
Sengketa Lahan Kawasi Murni Privat, Bukan Sengketa Publik Oleh: La Jamra Hi. Zakaria, SH Sengketa…
TERNATE, JN - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Ternate, Kamis (09/04), salurkan bantuan berupa…
TERNATE, JN - Gempa bumi bermagnitudo 7,6 yang mengguncang Kota Ternate dan wilayah sekitarnya pada…
HALSEL, JN - Fenomena menguatnya isu SARA dalam beberapa peristiwa konflik sosial di Maluku Utara…
TERNATE, JN - Gempa kembali guncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Kejadian terasa pada Kamis,…
HALSEL, JN - Bulan suci Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial. Semangat…