HALTENG, JN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, memperkuat program bank sampah sebagai salah satu upaya mengurangi volume sampah sekaligus mendorong masyarakat mendapatkan nilai ekonomi dari sampah yang telah dipilah.
Kepala Bidang Persampahan DLH Kabupaten Halmahera Tengah, Nikmatullah F. Jinaba, mengatakan hingga saat ini terdapat delapan bank sampah di sejumlah kecamatan yang mulai berjalan.
Menurut Nikmatullah, program tersebut tidak hanya berorientasi pada pengumpulan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar mulai memilah sampah dari rumah, Kamis, (3/9).
“Sudah ada delapan bank sampah di kecamatan-kecamatan yang mulai berjalan. Masyarakat diberikan arahan dan pembinaan bagaimana memilah dan memilih sampah,” kata Nikmatullah.
Ia menjelaskan, DLH juga mengembangkan bank sampah induk melalui fasilitas anjungan mandiri. Masyarakat yang telah mengumpulkan sampah anorganik seperti botol plastik, plastik dan kemasan dapat menghubungi pengelola untuk dilakukan penjemputan.
Penjemputan sampah yang telah dipilah tersebut dijadwalkan setiap Kamis. Sampah harus dalam kondisi bersih dan telah dipisahkan berdasarkan jenisnya sebelum ditimbang.
Untuk botol plastik, harga pembelian sekitar Rp3.000 per kilogram, sementara tutup botol dihargai sekitar Rp1.500 per kilogram.
“Botolnya harus dibuka dengan labelnya. Vendor penerima meminta sampah dalam kondisi bersih,” jelasnya.
Nikmatullah berharap masyarakat tidak lagi mencampur sampah yang memiliki nilai ekonomi dengan sampah lainnya.
Ia mendorong agar sampah yang masih dapat diolah dan memiliki nilai jual dipisahkan sejak dari rumah, kemudian disalurkan melalui bank sampah.
“Harapan kami kepada masyarakat, sampah dipilah dari rumah. Yang masih bisa diolah dipisahkan dan dimasukkan ke bank sampah,” ujarnya.
Terkait dukungan anggaran, Nikmatullah menyebut total anggaran program bank sampah pada tahun ini berada di kisaran Rp20 juta. Namun, ia mengatakan angka tersebut masih perlu dicek kembali untuk memastikan rincian anggarannya.
Sementara untuk dukungan permodalan, setiap bank sampah mendapatkan sekitar Rp20 juta.
“Nanti saya cek untuk total anggarannya. Saya kebetulan baru dilantik juga kemarin, jadi saya tidak hafal jumlah pastinya, jangan sampai salah,” katanya.
Nikmatullah menegaskan, keberadaan bank sampah diharapkan menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah di Halmahera Tengah. Dengan pemilahan dari sumbernya, sampah yang masuk ke TPS maupun kontainer diharapkan sudah didominasi sampah yang tidak lagi memiliki nilai untuk didaur ulang.
Program tersebut sekaligus diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat bahwa pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. (yUn)
















