Categories: Ragam

Sofifi dan Sunyi Setelah Janji: Sebuah Catatan untuk Gubernur Sherly

Oleh : Algifari Madoemasure, Warga Sofifi.

Sudah kurang lebih dua bulan sejak Gubernur Sherly Tjoanda resmi dilantik menjadi nahkoda baru Provinsi Maluku Utara. Sebuah pelantikan yang diiringi gegap gempita, penuh doa, dan ekspektasi dari masyarakat. Dalam setiap kata yang terucap, tampak cita-cita besar: membangun daerah, mempercepat pelayanan publik, dan yang tak kalah penting, menghidupkan kembali Sofifi—ibu kota provinsi yang selama ini terasa lebih sebagai simbol di atas kertas ketimbang jantung pemerintahan yang berdenyut nyata.

Namun waktu, seperti biasa, punya caranya sendiri untuk menguji janji. Dalam dua bulan terakhir, banyak yang menunggu. Sofifi menunggu. Warganya menunggu. Jalan-jalan rusak yang menjadi saksi sunyi bertahun-tahun, masih menanti diperbaiki. Jembatan yang rusak sejak 2024 tetap terbaring lemah. Taman di pusat kota, tempat yang seharusnya menjadi ruang bersua dan rekreasi warga, justru ditumbuhi semak belukar, seolah turut mewakili harapan yang pelan-pelan berubah menjadi kegetiran.


Gubernur Sherly, dalam berbagai kesempatan, hadir aktif di media sosial. Ajakan untuk melapor kerusakan jalan, seruan untuk bersinergi, dan narasi-narasi pembangunan terus dibagikan. Ini bukan sesuatu yang buruk. Komunikasi publik adalah bagian penting dari kepemimpinan modern. Tapi publik juga paham: komunikasi tanpa aksi adalah gema kosong yang hanya akan menambah bising telinga rakyat yang telah lama mendengarkan janji.

Sofifi bukan hanya nama. Ia adalah simbol pemerintahan. Ia adalah halaman depan dari rumah besar bernama Maluku Utara. Ketika halaman depan dibiarkan kusam, maka tamu pun akan bertanya-tanya bagaimana keadaan ruang di dalamnya. Dan warga, yang tinggal di halaman itu setiap hari, mulai bertanya-tanya pula: benarkah kami dianggap penting?

Padahal, pada awal masa kampanye dan menjelang pelantikan, Gubernur Sherly sempat menyampaikan niat untuk berkantor dan beraktivitas langsung di Sofifi. Bahkan beliau disebut-sebut pernah melakukan kunjungan ke salah satu gubernur di Kalimantan untuk belajar bagaimana membangun ibu kota provinsi yang sepi agar menjadi pusat pertumbuhan. Itu adalah sinyal awal yang memberi harapan. Sayangnya, hingga hari ini, belum banyak tanda-tanda nyata yang menunjukkan bahwa Sofifi menjadi prioritas dalam agenda kerja beliau.


Kami tentu memahami bahwa seorang pemimpin daerah baru membutuhkan waktu untuk menyesuaikan, membaca situasi, dan mengatur langkah strategis. Kami tidak menuntut segalanya selesai dalam 60 hari. Namun rakyat tidak buta. Rakyat bisa membedakan mana kerja yang berjalan pelan namun nyata, dan mana yang hanya berupa narasi yang indah namun menggantung.

Apalagi, saat warga diajak untuk melaporkan kerusakan infrastruktur di wilayah masing-masing, pertanyaan muncul: bagaimana mungkin diminta melihat jauh ke seluruh pelosok provinsi, sementara mata pemerintah belum benar-benar menatap serius kondisi ibu kotanya sendiri?

Ini bukan bentuk kemarahan. Ini adalah kritik yang lahir dari harapan. Sebab rakyat yang diam bukan berarti tidak peduli. Rakyat yang bersuara bukan berarti membenci. Dalam suara-suara itu tersimpan harapan bahwa Gubernur Sherly, dengan segala kapasitas dan pengaruhnya, benar-benar akan meletakkan Sofifi di tempat yang semestinya: bukan sebagai bayangan dari kota besar lain, tetapi sebagai wajah utama dari provinsi yang ia pimpin.

Kritik ini mungkin terdengar tajam, tapi ia ditujukan agar membangkitkan. Dua bulan bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk memulai. Tidak harus revolusioner. Satu perbaikan jalan, satu revitalisasi taman, atau sekadar kehadiran langsung di tengah warga Sofifi—itu saja cukup untuk membangunkan kepercayaan publik yang kini mulai lelah menunggu.

Gubernur Sherly, rakyatmu tidak butuh pemimpin yang sempurna. Mereka hanya ingin tahu bahwa pemimpinnya hadir. Bukan hanya dalam unggahan, tapi dalam tindakan. Bukan hanya dalam pidato, tapi dalam langkah kaki yang menapak di tanah yang dipimpinnya.

Sofifi menunggu. Ia tidak membutuhkan kemewahan. Ia hanya ingin dilihat. Sebab kota yang dilupakan oleh pemimpinnya, lambat laun akan melupakan kepercayaannya. Dan kepercayaan, sekali pergi, tidak mudah kembali. (*)

Redaksi

Recent Posts

Borong Dua Gol, Arwin Ardiansyah Bawa KJH FC Lolos 16 Besar PWI CUP Halsel

HALSEL, JN - KJH Fc berhasil meraih kemenangan penting usai menundukkan PCI dengan skor 2-1…

1 bulan ago

Reaksi dan Pro Kontra Pengalihan Lapak Buah kedalam Terminal Gamalama Ternate

TERNATE, JN - Pemerintah Daerah Kota Ternate berencana menata kembali pedagang buah yang ada di…

2 bulan ago

Diduga Penyalahgunaan Wewenang, Kades Terpilih Desa Ini Diadukan DPD LPP Tipikor

HALTENG, JN - Keterlibatan Calon Kepala Desa (Cakades) dalam pencairan Alokasi Dana Desa (ADD) di…

2 bulan ago

Gubernur Sherly Tunjuk Mantan Pejabat Di Halsel Jadi Plt Kadis DKP, Termasuk Plt Di Dinas Pertanian

SOFIFI, JN - Tak butuh waktu lama, Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos tunjuk Kadri La…

2 bulan ago

Data Tak Valid, DPRD Halteng Desak Pemda Cabut Izin Operasional SPBU Ini.

HALTENG, JN - Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Halmahera Tengah digelar diruang sidang paripurna…

2 bulan ago

Alasan Efisiensi Anggaran, Dispora Halteng diduga Lepas Tanggungjawab Atlet Porprov

HALTENG, JN - Persiapan atlet asal Kabupaten Halmahera Tengah untuk menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Tingkat…

2 bulan ago